Selasa, 01 November 2016

Hari Santri, Sejarah dan Perjuangan Panjang Ulama Santri - Part 5

Part 5 : Ulama dan Santri di masa kini
Di era reformasi, kiprah kaum santri semakin diperhitungkan dalam interaksi riil sosial, politik dan budaya. Dalam kancah politik, kaum santri tidak lagi menjadi obyek dari kepentingan sesaat politisi dan partai politik, akan tetapi dinamika perpolitikan Indonesia diwarnai pula oleh politisi santri yang tidak lagi malu dengan identitas kesantriannya, atau munculnya partai-partai politik yang berbasis massa kaum sarungan.
Gaung komunitas santri dalam dedikasinya terhadap pembangunan bangsa nyata-nyata terlihat. KH. Abdurrahman Wahid adalah prseiden RI ke 4, ayahnya KH. Wahid Hasyim yang pernah menjabat sebagai Menteri agama. Mukti Ali dan Saefullah Yusuf adalah sosok santri senior yang sempat tampil dalam birokrasi pemerintahan pusat. Dalam dunia seni dan budaya, kita akan mengenal Acep Zamzam Noor (penyair asal pesantren Cipasung), atau KH. Musthafa Bisri (budayawan asal pesantren Rembang), yang kreasi dan inovasinya sangat mempengaruhi atmosfir seni dan budaya di Nusantara.
Dalam lingkup sosial masyarakat, setidaknya kita bisa melihat peran ormas-ormas berbasis kaum santri yang banyak mendampingi grass root dalam mengusung agenda reformasi agar benar-benar menyentuh kalangan bawah. Begitu juga bermunculannya lembaga swadaya masyarakat (LSM) banyak yang dimotori oleh kaum santri, baik LSM yang konsentrasi di bantuan hukum, lingkungan hidup, kerukunan umat beragama, ekonomi yang bergerak di bidang pendidikan.
Jelaslah bahwa Pesantren sepanjang sejarahnya, terlepas kekurangan dan kelemahanannya, telah memberikan sumbangan yang sangat penting dan berharga bagi masyarakat bangsa, bukan hanya dalam kerangka pembentukan karakter positif bagi individu-individu anak bangsa, melainkan juga bagi utuhnya sistem Negara Bangsa dengan seluruh pilar-pilarnya. Agaknya model pendidikan pesantren seperti ini, menarik sekaligus relevan untuk dijadikan bahan pemikiran dan inspirasi untuk kondisi Indonesia yang tengah dilanda krisis moral yang akut ini.

Hari Santri, Sejarah dan Perjuangan Panjang Ulama Santri - Part 4

Part 4 : Peran Ulama dan Santri Pasca Kemerdekaan
Pada akhir kekuasaan jepang, KH. Wahid Hasyim secara intens mengadakan kontak dengan kalangan nasionalis untuk bersama mendesak kepada jepang agar segera merealisasikan kemerdekaan. Desakan indonesia ini cukup beralasan dibandingkan dengan filipina yang lebih dulu diberi kemerdekaan padahal sikap perjuangan filipina tidak sepenuhnya mendukung jepang, bahkan lebih memihak terhadap amerika serikat.
Desakan itu akhirnya membuahkan hasil. Pemerintah jepang membentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan resmi didirikan pada tanggal 29 Mei 1945.
Dalam perjalanan sidangnya, terbetuk panitia sembilan yang terdiri Dari Sukarno, Mohammad Hatta, Muh. Yamin, Ahmad Subardjo, AA. Maramis, Abdul Kahar Muzakkir, KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, dan Abikusno Sokrosuyoso.
Dari serangkaian diskusi dan pertemuan panitia sembilan dihasilkan rumusan yang menggambarkan maksud dan tujuan dari pembentukan negara indonesia merdeka dalam sebuah preambule yang dinamakan “piagam jakarta” (jakarta charter) pada 22 juni 1945. Rumusan kolektif dari dasar negara indonesia yang merdeka itu adalah:
1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2. (menurut) dasar kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan indonesia
4. (dan) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5. (Serta dengan mewujudkan suatu) keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia

Senin, 31 Oktober 2016

Hari Santri, Sejarah dan Perjuangan Panjang Ulama Santri - Part 3

Part 3 : Awal Pergerakan Santri
Menguatnya pengaruh pesantren di hindia belanda karena para ulama telah membangun suatu jaringan baik lokal maupun internasional. Dalam sepuluh tahun akhir abad ke-19 dan memasuki abad ke-20, merupakan sebuah kurun waktu yang sangat penting. Jalur perhubugan yang menghubungkan asia-eropa semakin mudah dan cepat dengan dibukanya terusan suez yang membelah benua asia dan afrika. pada kurun waktu ini, di hindia belanda terjadi volume perjalanan haji.
Dengan meningkatnya jumlah jamaah haji, menunjukan bahwa perkembangan dan kesadaran berbagai pemikiran mengenai islam di timur tengah dapat seacara paham baru mengenai ajaran islam.
Pengaruh dan pemikiran islam dari arab tidak hanya dibawa oleh penduduk yang menunaikan ibadah haji, melainkan juga dibawa oleh kalangan muda islam yang sedang dan pulang dari belajar islam di jazirah arab dan sekitarnya. Mereka ini kebanyakn kalangan muda yang memiliki latar belakang santri atau berasal dari lingkungan pondok-pondok pesantren. Berbagai literatur tentang pemikiran islam yang dibaca dan didapatkan dari guru-guru di timur tengah membuat mereka tumbuh menjadi sosok yang memiliki pemahaman dan wawasan yang terbuka tentang islam. Beberapa nama yang bisa dicatat diantaranya: syeikh Nawawi al-Bantani (Banten), syeih Mahfudz at-Tarmisi (Termas, Pacitan), syeikh Ahmad Khatib Sambas (kalimantan), kyai abdul gani (bima), kyai arsyad banjar, kyai abdul shomad (palembang), kyai kholil bangkalan, dan sebagainya.
Pada tahun 1912 KH. Ahmad Dahlan mendirikan sebuah organisasi islam modernis dan pembaharu yaitu persyerikatan Muhammadiyyah. Setahun sebelum pendirian organisasi Muhammadiyyah, pada tahun 1911 KH. Ahmad Dahlan telah mendirikan sebuah sekolah dasar di lingkuang kraton Yogyakarta.
Pada tahun 1914 KH. Wahab Chasbullah bersama KH. Mas Mansyur mendirikan sebuah kelompok diskusi yang diberi nama tashwirul afkar atau potret pemikiran. Kemudian KH. Wahab Chasbullah juga membentuk Islam Study Club di surabaya. Selain berhasil menarik kalangan pemikir islam tradisional, keberadaannya juga menarik minat para tokoh pergerakan lain termasuk para tokoh nasionalis-sekuler seperti pendiri dan pemimpin organisasi budi utomo, dr. Sutomo. Kemudian mendirikan kelompok kerja yang dinamakan nahdlatul wathan atau kebangkitan tanah air. Pergerakan ini melahirkan madrasah dengan corak nasionalis-moderat yang tersebar di daerah-daerah jawa timur dan dipimpin langsung oleh kedua kyai itu.
KH. Wahab terus bergerak, pada periode 1920-an bersama Abdullah Ubaid berinisiatif membentuk sebuah organisasi pemuda muslim dengan nama syubbanul wathon (pemuda tanah air) di surabaya.
Atas kesepakatan para ulama pesantren, akhirnya terbentuklah organisasi Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada tahun 1926 di kota surabaya, organisasi ini dipimpin oleh KH. Hasyim Asy’ari sebagai rais akbar.
Pada periode kolonial, pihak yang selalu konsisten anti kolonial adalah para ulama-santri sehingga mereka terus menjaga tradisi perlawanan melawan kolonial. Tradisi perlawanan ini tidaklah hanya didasarkan pada pembelaan terhadap salah satu pihak, tetapi karena tindakan kolonial Belanda yang menindas dan mengganggu tegaknya agama Islam. Banyak ulama-santri yang tidak pernah padam melakukan perlawanan terhadap kolonial sehingga meledakkan perang besar sepanjang sejarah, yaitu Perang Jawa Diponegoro. Pasukan Pengaran Diponegoro selain terdapat para bangsawan juga dipenuhi para ulama-santri dari berbagai penjuru Jawa. Para ulama-santri itulah yang di kemudian hari meneruskan perjuangannya ketika Pangeran Diponegoro ditangkap. Kyai Abdullah Salam Jombang, Kyai Umar Semarang, Kyai Abdurrauf Magelang, Kyai Yusuf Purwakarta, Kyai Muta’ad Cirebon, Kyai Hasan Basyari Tegalsari Ponorogo dengan muridnya Kyai Abdul Manan Pacitan adalah nama-nama pionir terbentuknya kembali jaringan ulama nusantara baik di tingkat lokal maupun internasional. Di akhir abad 19 muncullah Syekh Nawawi Banten yang meneruskan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari, Kyai Sholeh Darat yang meneruskan perjuangan ayahnya Kyai Umar Semarang, Sykeh Mahfuzh At-Tirmasi, cucu Kyai Abdul Manan, yang meneruskan perjuangan Kyai Hasan Besyari, Kyai Abdul Djamil dan Kyai Abbas Buntet-Cirebon yang meneruskan perjuangan Kyai Muta’ad, dan Syekh Hasyim Asy’ari serta Kyai Wahab Hasbullah keturunan Kyai Abdus Salam Jombang, dan masih banyak ulama lainnya. Ulama-ulama tersebut telah berhasil membangun jaringan ulama Nusantara yang menjahit keterkaitan hubungan antara guru-murid yang memiliki kontribusi penting bagi terbangunnya pergerakan nasional menegakkan negara dan bangsa Indonesia.
Di saat Perang Dunia II meletus dan Jepang menguasai Hindia Belanda, para ulama terus berijtihad agar kemerdekaan RI segera terwujud. Memanfaatkan kelemahan Jepang yang terjepit oleh sekutu meski penindasan Jepang begitu kejam terhadap rakyat, para ulama mencoba membangun persiapan-persiapan menyongsong kemerdekaan. Jepang memahami, kalangan Islam sangat penting dan memiliki posisi strategis, karenanya Jepang berupaya merangkul Islam, khususnya Islam-tradisional. Dalam konteks inilah laskar Hizbullah dibentuk untuk mempersiapkan kemerdekaan RI dan mempertahankannya.
Pada tanggal 22 Oktober 1945 ditetapkan seruan Resolusi Jihad yang dihasilkan oleh santri-ulama pondok pesantren dari berbagai propinsi Indonesia yang berkumpul di Surabaya. Resolusi Jihad ini dikumandangkan sebagai jawaban para tokoh ulama pesantren yang didasarkan atas dalil agama Islam yang mewajibkansetiap muslim untuk membela tanah air dan mempertahakan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari serangan penjajah. Resolusi jihad tersebut tidak semata-mata dimaksudkan sebagai perjuangan membela agama Islam saja, tetapi juga membela kedaulatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Dengan berbekal fatwa jihad yang diteguhkan dalam Resolusi Jihad tersebut, para pejuang pantang mundur menolak kedatangan kolonial. Resolusi Jihad tersebut menyeru seluruh elemen bangsa khususnya umat Islam untuk membela NKRI. Pertempuran 10 November 1945 meletus, laskar ulama santri dari berbagai daerah di garda depan pertempuran. Resolusi Jihad juga membahana di Semarang dan sekitarnya, bahkan telah mengiringi keberhasilan dalam Perang Sabil Palagan Ambarawa. Para laskar ulama santri juga terus melakukan pertempuran mempertahankan daerahnya masing-masing termasuk di tanah Pasundandan daerah-daerah lainnya
Kirprah santri dalam membela negara tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada tahun 1943-1945 hampir semua pondok pesantren membentuk laskar-laskar, dan yang paling populer adalah laskar hisbullah dan sabilillah.
Pada kurun waktu tersebut kegiatan pondok pesantren adalah berlatih perang danolah fisik. Bahkan peristiwa-peristiwa pelawanan sosial politik terhadap penguasa kolonial, pada umumnya dipelopori oleh para kiai sebagai pemuka agama, para haji, dan guru-guru ngaji.
Pada 21 oktober 1945, berkumpul para kiai se-jawa dan madura di kantor ANO (Ansor Nahdlatur Oelama). Setelah rapat darurat sehari semalam, maka pada 22 oktober 1945 dideklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah “Resolusi Jihad”.
Laskar hizbullah dan sabilillah didirikan menjelang akhir pemerintahan jepang, dan mendapat latihan kemiliteran di cibarusah, sebuah desa di kabupaten bekasi, jawa barat. Laskar hizbullah berada di bawah komando spiritual KH. Hasyim Asy’ari dan secara militer dipimpin oleh KH. Zaenul Arifin. Adapun laskar sabilillah dipimpin oleh KH. Masykur.

Sabtu, 29 Oktober 2016

Hari Santri, Sejarah dan Perjuangan Panjang Ulama Santri - Part 2

Part 2 : Sejarah perjuangan
Memasuki abad ke-16 pelaut barat mulai berdatangan dengan motif awal melakukan hubungan ekonomi-perdagangan untuk mencari komoditas rempah-rempah yang mereka butuhkan. Diawali oleh portugis yang datang ke indonesia denganmengusung trilogi yang mendai semboyan mereka yaitu Gold, Glory, Gospel.
Mayoritas masyarakat pribumi saat kedatangan Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris maupun bangasa Barat lainnya adalah masyarakat Islam. Masyarakat khawatir dan sadar atas bahaya ekspansi yang dilakukan bangsa barat, terutama belanda. Kesadaran tersebut menjadi spirit membangkitkan serangkaian perlawanan dari para penguasa dan masyarakat lokal.
Perlawanan terhadap belanda diselimuti oleh gerakan multi etnis yang terjiwai semangan dan ide keagamaan (Islam).
Tidak sedikit dari perjuangan bangsa yang dipelopori oleh ulama. Di jawa timur para ulama melakukan perlawanan kultural dengan memperkuat pembinaan danpendidikan di pesantren untuk mempersiapkan perlawanan jangka panjang.Pada era ini banyak ulama-ulama melakukan rihah keilmuan ke timur tengah dan berhasil membangun jaringan yang lebih luas, jejaring yang dibangun tersebut nantinya berkontribusi dalam pergerakan nasional.
Pada saat terjadinnya perang jawa (java orloog). Pada juli 1825 Belanda mengirimkan para serdadunya untuk menangkap pangeran diponegoro, namun gagal karena ia berhasil melarikan diri dan bersiap untuk mengobarkan perang kepada Belanda.
Dalam perlawanan ini didukung rakyat biasa dan ulama. Dari kalangan ulama dukungan penuh diberikan oleh kiyai Mojo, Surakarta dan Setot Ali Basya. Juga dari beberapa ulama di pesisir utara maupun jawa bagian timur antara lain kyai Umar Semarang, Kiyai Abdussalam Demak Jombang, kiyai Hasan Besyari Tegalsari Ponorogo dan lain sebagainya.
Sementara itu di Banten, pada tahun 1748 perlawanan dilakukan terhadap belanda sebagian besar wilayah banten berada dalam pengaruh dan penguasaan kaum perlawanan. Kedudukan VOC di sepanjang perbatasan Batavia juga dalam ancaman.
Dalam perlawanannya di Banten, kyai Tapa melakukan serangkaian aksi pembakaran dan pemusnahan perkebunan milik VOC dan milik orang eropa lainnya. Setahun kemudian pelawanan kyai Tapa ini berhasil dipatahkan, namun masih menyisakan serangkaian perlawanan secara sporadis terhadap Belanda di Selat Sunda, Bandung dan sekitarnya, serta bogor.

Kamis, 27 Oktober 2016

Hari Santri, Sejarah dan Perjuangan Panjang Ulama Santri - Part 1


Part 1 : Sejarah pondok pesantren
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang masih eksis hingga saat ini. Keberadaan pesantren diperkirakan tersebar di berbagai tempat semenjak meluasnya dakwah wali songo pada abad ke-15. Seiring dengan munculnya kerajaan-kerajaan islam di tanah jawa yang sedikit demi sedikit mulai mengambil alih pengaruh kekuatan Hindu-Budha. Proses peralihan kekuasaan dari Majapahit ke Mataram menjadi faktor determinan dalam proses Islamisasi Jawa.
Awal mula adanya pondok pesantren ketika salah seorang perantau datang dari jauh untuk menimba ilmu pada seorang kiai di daerah yang terkenal ilmu agama Islamnya. Akhirnya santri tersebut tinggal di rumah kiai yang menerimanya menjadi santri. Kemudian santri tersebut mendapatkan ilmu dari kiai. Dan timbal baliknya santri membantu kiai seperti mencari kayu bakar, bercocok tanam, menggembala kambing dan lain sebagainya.
Satu persatu santri berdatangan, sampai rumah kiai tidak mampu menampung jumlah santri yang terus bertambah. Akhirnya dibangunlah pondok-pondok kecil di sekitar rumah kiai yang kemudian berubah menjadi lembaga pendidikan yang disebut pondok pesantren.

Film Religi Terbaru Fullframe Pictures Indonesia


Film Religi Terbaru Fullframe Pictures Indonesia – Rumah produksi Fullframe Pictures Indonesia kini akan merilis sebuah film religi terbaru yang akan di tayangkan di waktu dekat. Belum tau kapan tepatnya film berjudul “Cahaya Cinta Pesantren” ini tayang, namun para pecinta film religi mulai aktif mencari tanggal tersebut. Tidak heran memang, film bernuansa pesantren ini menjadi film yang ditunggu oleh kaum muda hingga yang sudah berumur, pasalnya film ini selain cerita tentang pesantren juga menceritakan tentang kehidupan romantic dan percintaan.
Film yang tengah ditunggu tanggal mainnya ini, Diangkat dari sebuah novel karya Ira Madani dengan judul yang sama yaitu “Cahaya Cinta Pesantren”. Diproduseri oleh ustadz kondang Yusuf Mansyur film ini berhasil menggaet artis-artis besar sebagai pemainnya. Tidak hanya itu, keberhasilan pembuatan film bertajuk religi ini tentu saja tidak lepas dari sutradara muda berbakat Raymond HAndaya. Dalam film perdananya Rumah produksi Fullframe Pictures Indonesia ini menetapkan Danau Toba, Medan, Sumatra Utara sebagai lokasi pengambilan gambar tersebut.
Dikabarkan mulai syuting pada februari 2016 lalu, film ini telah banyak menyita perhatian public, karena tidak hanya produser dan sutradaranya saja yang ditunggu-tunggu, namun juga karena film ini dibintangi oleh artis-artis besar dari artis lama yang sudah berpengalaman dalam film hingga artis pendatang baru. Pemain dari film tersebut antara lain:
• Yuki Kato
• Elma Theana
• Febby Blink
• Silvia Blink
• Wirda Mansyur
• Rizky Febian
• Zee Zee Shahab
• Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dalam film ini diceritakan bahwa Shila yang diperankan oleh Yuki Kato yang tidak bisa melanjutkan SMAnya harus melanjutkan di Pesantren pilihan Ayah Ibunya. Namun karena Dia tak betah akhirnya Dia kabur dengan Manda yang diperankan oleh Febby Blink karena Manda juga tidak menginginkan untuk tetap berada di pesantren. Namun entah bagaimana ceritanya akhiranya mereka berdua harus kembali ke pesantren, hingga akhirnya Shila jatuh cinta kepada santri seniornya bernama rifqi yang diperankan oleh Fachri Muhammad dan akhirnya berbagai konflik kehidupan pun menyelimuti keduanya.
Tentunya Anda sebagai orang Indonesia pasti penasaran kan bagaimana sih kelanjutan film ini ? Nah daripada penasaran, ikutin terus kelanjutan ceritanya yah. Jangan sampai ketinggalan, karena dijamin seru deh. Selamat menyaksikan..

Selasa, 25 Oktober 2016

Film Terbaru Elma Theana, Cahaya Cinta Pesantren


Siapa sih yang tidak kenal dengan Elma Theana ? Elma Theana adalah salah satu dari pemain filem Cahaya Cinta Pesantren. Ini adalah film terbaru bertemakan religi bagi Elma Theana. Seorang artis besar yang telah membintangi berbagai macam film Indonesia ini tentu saja siapapun mengenalnya kan ? Nah, setelah sekian lama Elma Theana vakum dari dunia hiburan kini Dia kembali hadir membintangi film terbarunya.
Cahaya cinta pesantren adalah salah satu film terbaru Elma Theana yang akan diliris beberapa waktu mendatang. Film yang bertemakan tentang kehidupan anak pesantren dibintangi oleh artis-artis papan atas tentu saja akan menarik minat pecinta film berbalut sinematografi yang indah yang satu ini.
Film ini menggaet sutradara muda berbakat Raymond Handaya yang merupakan salah satu sutradara berpengalaman. Dalam film bertemakan tentang kehidupan, social dan cinta, Elma Theana mengambil peran sebagai ibu dari Shila yang diperankan oleh Yuki Kato. Elma Theana yang berperan sebagai orang batak mengaku kesulitan dengan logat bicara yang harus Dia gunakan, namun Dia tetap merasa senang karena bisa membintangi film yang diinisiasikan oleh Ust.Yusuf Mansyur.
Tentu saja Elma Theana tidak sendiri dalam memerankan film layar lebar tersebut, karena aktris dan actor pendatang maupun artis lama lainnya juga ikut berperan dalam film ini. Artis lain yang ikut berperan dalam film perdana Fullframe Pictures Indonesia antara lain:
•Yuki Kato (Shila)
•Zee Zee Shahab (Ustadzah Jannah)
•Febby Blink (Manda)
•Fachri Muhammad (Rifqi)
•Silvia Blink (Aisyah)
•Dan masih banyak lagi.
Khususnya Anda para pecinta film bertajuk romantisme dan percintaan pasti bakal nyesel jika Anda melewatkan film ini, karena film yang satu ini dirilis untuk ditunjukkan pada Anda baik remaja, dan dewasa. FilmCahaya Cinta pesantren ini akan mengajak seakan-akan merasakan kehidupan yang ada dalam film tersebut.
Apalagi jika Anda salah satu fans berat dari Elma Theana aktris papan atas berpengalaman tentunya Anda tidak mau ketinggalan kan ? Nah, jika Anda penasaran bagaimana film perjalanan kisah kehidupan di pesantren jangan lewatkan ya dan Tunggu tanggal mainnya di bioskop terdekat Anda. Dijamin ngga bakal nyesel deh.